Program Pendidikan Nonformal Bagi Anak Putus Sekolah Di Wilayah Pedesaan Cianjur

Main Article Content

Lisa Chandrasari Desianti
Bambang Ismaya

Abstract

Permasalahan anak putus sekolah di wilayah pedesaan Indonesia merupakan isu kompleks yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, keterbatasan akses geografis, rendahnya motivasi belajar, serta minimnya dukungan keluarga. Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kesenjangan akses dan kondisi sosial-ekonomi masih menjadi penyebab dominan tingginya angka putus sekolah. Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat peran pendidikan nonformal sebagai solusi second chance education melalui pendekatan partisipatif dan berbasis kebutuhan lokal. Kegiatan yang melibatkan 25 peserta ini dilaksanakan selama enam bulan dengan tahapan persiapan dan analisis kebutuhan menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA), perencanaan kurikulum adaptif yang mengintegrasikan literasi, numerasi, pendidikan karakter, serta pelatihan keterampilan berbasis potensi desa, pelaksanaan pembelajaran partisipatif dan kontekstual (CTL) berbasis proyek, serta monitoring dan evaluasi berkala melalui pre-test dan post-test. Hasil program menunjukkan tingkat retensi peserta sebesar 84%, peningkatan literasi dan numerasi rata-rata 35%, serta 52% peserta mulai terlibat dalam usaha produktif atau aktivitas ekonomi lokal. Selain itu, terjadi peningkatan motivasi belajar, kepercayaan diri, serta dukungan keluarga melalui kegiatan parenting education. Terbentuknya Kelompok Belajar Mandiri dan penguatan kapasitas tutor lokal menjadi indikator keberlanjutan program. Dengan demikian, pendidikan nonformal terbukti efektif sebagai strategi intervensi sosial yang fleksibel, inklusif, dan replikatif dalam menekan angka putus sekolah serta mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan di wilayah pedesaan.

Article Details

Section
Articles
Author Biography

Lisa Chandrasari Desianti, Universitas Pakuan

Permasalahan anak putus sekolah di wilayah pedesaan Indonesia merupakan isu kompleks yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, keterbatasan akses geografis, rendahnya motivasi belajar, serta minimnya dukungan keluarga. Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kesenjangan akses dan kondisi sosial-ekonomi masih menjadi penyebab dominan tingginya angka putus sekolah. Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat peran pendidikan nonformal sebagai solusi second chance education melalui pendekatan partisipatif dan berbasis kebutuhan lokal. Kegiatan yang melibatkan 25 peserta ini dilaksanakan selama enam bulan dengan tahapan persiapan dan analisis kebutuhan menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA), perencanaan kurikulum adaptif yang mengintegrasikan literasi, numerasi, pendidikan karakter, serta pelatihan keterampilan berbasis potensi desa, pelaksanaan pembelajaran partisipatif dan kontekstual (CTL) berbasis proyek, serta monitoring dan evaluasi berkala melalui pre-test dan post-test. Hasil program menunjukkan tingkat retensi peserta sebesar 84%, peningkatan literasi dan numerasi rata-rata 35%, serta 52% peserta mulai terlibat dalam usaha produktif atau aktivitas ekonomi lokal. Selain itu, terjadi peningkatan motivasi belajar, kepercayaan diri, serta dukungan keluarga melalui kegiatan parenting education. Terbentuknya Kelompok Belajar Mandiri dan penguatan kapasitas tutor lokal menjadi indikator keberlanjutan program. Dengan demikian, pendidikan nonformal terbukti efektif sebagai strategi intervensi sosial yang fleksibel, inklusif, dan replikatif dalam menekan angka putus sekolah serta mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan di wilayah pedesaan.

References

Badan Pusat Statistik. (2023). Profil pendidikan Indonesia 2023. Jakarta: BPS.

Deswita, Y., & Nora, D. (2022). Faktor penyebab anak putus sekolah di masa pandemi Covid-19. Jurnal Perspektif Pendidikan, 16(2), 123–135.

Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus. (2021). Pedoman penyelenggaraan pendidikan kesetaraan. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Fitriani, W. G., Widyatmike, G., & Rahman, A. (2025). Evaluation of the non-formal education equivalency program in addressing school dropouts at Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Bangun. EduLine: Journal of Education and Learning Innovation, 5(1), 45–58.

Frisnoiry, S., Simanjuntak, M., & Hutabarat, L. (2024). Analisis faktor penyebab anak putus sekolah. J-CEKI: Jurnal Cendekia Ilmiah, 3(1), 45–53.

Henriquez, F. D., Widyanto, K., & Ismail, H. (2024). Implementasi program sanggar kegiatan belajar dalam mengurangi angka putus sekolah melalui pendidikan nonformal di Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur. Praja Observer: Jurnal Penelitian Administrasi Publik. https://doi.org/10.69957/praob.v5i06.2540

Herman, H., Sukmana, S., & Susilo, D. (2025). Peran pendidikan nonformal dalam mengatasi kriminalitas (Studi kasus Desa Soki). Journal of Society Bridge, 3(2), 112–125.

Imaniar, M., Nurhidayatika, N., & Roswati, R. (2024). Peran pendidikan nonformal dalam mengurangi angka putus sekolah di wilayah pedesaan. DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial. https://doi.org/10.53299/diksi.v6i2.1570

Imaniar, M., Nurhidayatika, N., & Roswati, R. (2025). Peran pendidikan nonformal dalam mengurangi angka putus sekolah di wilayah pedesaan. DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial, 4(1), 23–37.

Islam, M. R., & Sim, N. (2021). Education and food consumption patterns: Evidence from Indonesia. arXiv Preprint. https://doi.org/10.48550/arXiv.2109.08124

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022). Indonesia education statistics in brief 2022. Jakarta: Kemendikbudristek.

Masarilharom, A. H., et al. (2024). Sosialisasi pentingnya pendidikan untuk mengurangi tingkat putus sekolah di Desa Cibareno. Jurnal Pengabdian Dinamika.

Muhammad, I., Ariani, S., & Idris, A. (2023). Jenis pendidikan nonformal di Indonesia. Educator Development Journal. https://doi.org/10.22373/edj.v2i2.5808

Nadila, N., Fatmariza, F., Montessori, M., & Muchtar, H. (2024). Problematika sosial anak putus sekolah di Desa Koto Kapeh Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci. Jurnal Pendidikan Tambusai. https://doi.org/10.31004/jptam.v8i1.13871

Sui-Ni, N. (2023). Peran pemerintah dalam menyediakan pendidikan bermutu. arXiv Preprint. https://doi.org/10.48550/arXiv.2302.12837

Suryadi, A., & Rahmawati, N. (2021). Faktor-faktor penyebab anak putus sekolah di daerah pedesaan. Jurnal Pendidikan dan Kebijakan Publik, 6(2), 115–128.

Syarofah, W. (2021). Faktor-faktor penyebab anak putus sekolah. Jurnal Bina Ilmu Cendekia, 2(1), 67–75.

Utami, R., Putra, A., & Sari, D. (2022). Faktor penyebab anak putus sekolah di Desa Sukadamai. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 4(3), 210–218.